Info T1D
Tenaga Kesehatan Profesional
Tentang Kami
#StopStigmaDiabetes: Menggunakan Bahasa Inklusif untuk Orang yang Hidup dengan Diabetes
Diedit:
Bagi seseorang yang hidup dengan diabetes, setiap hari mungkin penuh dengan tantangan, dan seringkali sulit bagi orang yang tidak mengalami kondisi ini untuk mengerti betapa kompleks dan menantangnya menghadapi dan mengelola penyakit ini. Kesulitan ini semakin diperparah oleh adanya informasi yang tidak akurat dan stigma yang berkaitan dengan diabetes.
Salah satu aspek kunci dalam memberdayakan orang dengan diabetes adalah penggunaan bahasa yang inklusif, tidak menghakimi, dan suportif. Pendekatan ini membantu menciptakan pemahaman, empati, dan suasana yang bebas dari stigma, yang penting untuk mendukung mereka.
Penggunaan label seperti "patuh" atau "tidak patuh" tidak membantu karena membuat diabetesi merasa bersalah, takut, dan malu.
Cara yang lebih efektif untuk menghadapi situasi ini adalah dengan memahami alasan di balik tindakan mereka. Ini melibatkan pembicaraan tentang keyakinan, ketakutan, minat, dan setiap masalah yang mungkin muncul selama Anda menyusun rencana perawatan mereka.
Hanya dengan cara ini, penetapan tujuan bisa menjadi realistis, dapat dikerjakan, dan berkelanjutan. Komunikasi dua arah memberikan hasil yang lebih baik dan peningkatan kesejahteraan yang lebih signifikan bagi seseorang dengan diabetes.
Sebaiknya menggunakan frasa seperti "mengelola" dan "aman/tidak aman" untuk fokus pada upaya individu dan membangun konteks yang tidak menghakimi. Penggunaan kata-kata seperti 'buruk,' 'kontrol,' dan 'kepatuhan' dapat terkesan menghakimi dan berpotensi menurunkan motivasi.
Jika mengatakan kepada diabetesi, "Kontrol diabetes Anda buruk, Anda tidak patuh" mungkin tidak memberikan dorongan, sebaliknya, katakanlah "mungkin tidak aman bagi kesehatan jangka panjang Anda jika glukosa darah Anda tidak terkelola dengan baik."
Ketika seseorang dinilai, didiskriminasi, atau diperlakukan buruk karena memiliki diabetes, ini disebut sebagai stigma diabetes. Dalam beberapa kasus, ini disebabkan oleh ketidakpahaman tentang diabetes, sehingga mendidik orang lain dapat membantu.
Ketika seseorang memiliki diabetes tipe 1, sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel islet pankreas yang memproduksi insulin, yang berarti pankreas tidak membuat insulin.
Bagi mereka yang mengidap diabetes tipe 2, produksi insulin di pankreas berkurang dan tubuh menjadi resisten terhadap insulin.
Diabetes gestasional adalah jenis lain. Ini terjadi ketika tubuh Anda tidak memproduksi cukup insulin selama kehamilan
Ada juga Diabetes Maturity-Onset of the Young (MODY) yang merupakan jenis diabetes langka yang tidak sama dengan diabetes tipe 1 atau tipe 2. Ini cenderung berlangsung kuat dalam keluarga.
Dan Diabetes Autoimun Laten Dewasa (LADA), ini adalah kondisi autoimun yang dimulai pada dewasa dan tidak memerlukan insulin setidaknya enam bulan setelah didiagnosis.
Namun, banyak orang masih memiliki banyak keyakinan dan stereotip yang salah. Misalnya, mereka sering keliru memahami beberapa jenis diabetes.
Stigma diabetes ini dapat melukai diabetesi secara emosional dan mencegah mereka berbicara tentang kondisi mereka. Hal ini membuat pengidap diabetes akhirnya menyembunyikan kondisinya hingga membuat ia tidak maksimal dalam mengelola diabetes.
Cara berpikir kita tentang diabetes ternyata memiliki dampak besar bagi perasaan diabetesi.
Sebagai orang yang bekerja dalam perawatan kesehatan dan/atau sebagai pengasuh, menciptakan suasana yang mendorong pemahaman dan manajemen yang efektif menghasilkan perawatan yang lebih baik pada diabetesi.
Diabetesi akan merasa lebih baik dan nyaman ketika Anda menghormati pikiran, perasaan, dan tantangan mereka.
Penting untuk mempelajari tentang diabetes agar Anda dapat lebih memahami dan mendukung orang yang memiliki kondisi ini.
Salah satu cara adalah dengan mengetahui apa yang diabetesi alami setiap hari, termasuk obat-obatan dan perangkat yang mereka butuhkan, serta masalah yang mungkin mereka hadapi.
Kesalahpahaman umum tentang diabetes seringkali membuat orang berpikir semua jenis diabetes sama. Namun, setiap orang yang hidup dengan diabetes memiliki pengalaman yang unik. Oleh karena itu, sangat penting untuk tidak melakukan generalisasi dan menghargai setiap pengalaman individu tersebut.
Alih-alih mengatakan, "Penderita diabetes tidak bisa makan gula," Anda mungkin berkata, "diabetesi perlu mengelola asupan karbohidrat mereka, tetapi mereka masih dapat menikmati makanan secukupnya."
Dengan menghindari generalisasi, diabetesi dapat merasa lebih dipahami, diberdayakan, dan dihargai.
Bahasa yang mengutamakan individu menitikberatkan pada orang tersebut, bukan kondisinya. Perhatikan saat Anda mengucapkan "seorang penderita diabetes."
Jika Anda ingin lebih menghormati, lebih inklusif untuk mengatakan "orang yang hidup dengan diabetes." Orang lain mungkin tidak keberatan, tetapi beberapa orang mungkin merasa berbeda.
Pendekatan ini mendukung gagasan bahwa penyakit seseorang tidak mendefinisikan identitas mereka. Hal ini dapat membantu mengurangi stigma terhadap diabetes.
Cara yang bagus untuk berkomunikasi dengan seseorang yang memiliki diabetes adalah dengan bertanya kepada mereka pertanyaan terbuka tentang bagaimana perasaan mereka.
Coba tanyakan, "bagaimana perasaanmu hari ini? Terima kasih sudah datang. Apa yang baru-baru ini berhasil kamu lakukan?" alih-alih "Apakah Anda patuh dengan rencana obat dan mengontrol diabetes dengan diet dan olahraga?"
Metode ini mempromosikan komunikasi terbuka dengan gaya bahasa yang mendukung.
Merawat diabetes membutuhkan upaya dan perhatian yang konstan. Orang tanpa diabetes dapat menunjukkan dukungan dengan mengakui perjuangan dan usaha harian teman atau keluarga mereka yang memiliki diabetes.
Anda benar-benar dapat membantu mereka merasa lebih baik dengan memberi tahu mereka hal-hal seperti, "Saya kagum dengan seberapa keras Anda bekerja untuk mengatasi diabetes Anda" atau "Saya tahu ini tidak mudah, tapi Anda melakukan pekerjaan yang hebat."
Hindari memberikan tips kepada diabetesi ketika mereka belum meminta.
Banyak orang yang tidak hidup dengan diabetes mungkin bermaksud baik, tetapi pernyataan mereka dapat menyakitkan dan meremehkan.
Sebagai gantinya, tawarkan dukungan dan dorongan Anda. Jika mereka meminta bantuan, pastikan Anda memberikan saran yang benar dan ingatkan mereka bahwa Anda bukan profesional medis.
Salah satu cara untuk mendukung hal ini adalah dengan mendukung inisiatif, kebijakan, dan undang-undang yang memastikan setiap orang dengan diabetes mendapatkan perlakuan yang adil. Sebagai contoh, Anda dapat berkomitmen di www.enddiabetesstigma.org.
Orang yang peduli dan mendukung orang yang dicintai mungkin dapat mengurangi stigma diabetes dan menciptakan hubungan yang bermakna dengan orang yang memiliki diabetes dengan menggunakan bahasa yang berbasis kekuatan, inklusif, dan mendukung.
Diabetesi tidak seharusnya dihakimi, disalahkan, atau dipermalukan karena memiliki diabetes. Ini bukan kesalahan mereka.
Sebaliknya, kita dapat membuat masyarakat lebih menerima dan memahami dengan mempelajari tentang kondisi diabetes,
tidak membuat asumsi, berbicara dengan cara yang mengutamakan individu, dan mengakui usaha dan kemajuan yang telah dicapai diabetesi.
Perubahan bahasa ini dapat membuat perbedaan besar dalam kehidupan diabetesi dan membantu membuat masyarakat lebih menerima dan peduli terhadap semua orang.
Penerjemah:
Dr. Helena Arnetta Puteri, Dr. Dyah Puspitaningtyas, Dr. Dhiya Nadira
Reviewer:
Prof. Aman Pulungan, Dr. Faizi, Dr. Agustini, Dr. Ghaisani, Dr. Khairunnisa, Dr. Stephanie Adelia, Dr. Irfan Salim, Dr. Yuni Hisbiyah, Dr. Rayi Kurnia, Dr. Timothy Supit.