Info T1D

Icon

Tenaga Kesehatan Profesional

Tentang Kami

Mimpi di Luar Diagnosis: Perjalanan Leaphy dengan Diabetes Tipe 1

Diedit:

Anne-Charlotte Ficheroulle

Pharmacist, Education Manager, A4D

Leaphy diberi tahu bahwa ia mengidap diabetes tipe 1 pada tahun 2017, saat ia baru berusia sembilan tahun. Itu merupakan momen besar baginya dan menandai dimulainya perjalanan yang tidak pernah ia duga. Awalnya, diagnosisnya menimbulkan berbagai macam emosi. Ia merasa bingung, tidak mengerti istilah dan aturan medis, serta khawatir tentang masa depannya. Namun, meskipun takut, ia memutuskan untuk belajar mengelola kondisinya dan tetap menjalani kehidupan yang ia impikan.

Belajar mengelola diabetes tidaklah mudah. ​​Leaphy harus memeriksa kadar gula darahnya beberapa kali sehari, yang berarti harus menusuk jarinya untuk menguji darahnya. Empat kali sehari, ia menyuntikkan insulin ke dirinya sendiri, dengan hati-hati menyesuaikan dosisnya dengan makanan dan aktivitasnya. Meskipun rutinitas ini awalnya menakutkan, hal itu segera menjadi bagian lain dari harinya—seperti mengikat tali sepatu atau menggosok gigi.

Meskipun ia bertekad untuk hidup sepenuhnya, terkadang ia merasa khawatir. Ia takut akan hal-hal seperti kadar gula darah rendah yang tiba-tiba yang membuatnya merasa pusing dan lemah. Ia juga khawatir tentang tanggung jawab seumur hidupnya untuk mengelola kesehatannya dengan sangat hati-hati, karena ia tahu bahwa kesalahan kecil pun dapat berdampak besar.

Namun Leaphy punya impian besar. Ia tidak ingin diabetes mengendalikan masa depannya. Ia ingin berprestasi di sekolah dan bahkan bermimpi menjadi model. Ia ingin mengikuti hasratnya tanpa merasa terkekang oleh kondisinya. "Itu hanya sebagian dari diriku," ia mengingatkan dirinya sendiri. "Tidak semua (dari) diriku."

Leaphy tidak sendirian dalam perjalanan ini. Orang tuanya selalu ada di setiap langkahnya, belajar mengelola diabetes bersamanya. Mereka memantau kadar gula darahnya bersama-sama dan merayakan setiap keberhasilan kecil, seperti memperoleh hasil bacaan yang baik atau mempelajari keterampilan baru dalam perawatan diri. Teman-temannya juga membantu, mengingatkannya untuk memeriksa kadar gula darahnya atau memastikan bahwa ia merasa dilibatkan dalam berbagai kegiatan. Para profesional perawatan kesehatan juga mendukungnya, membimbingnya melalui suka duka pengelolaan diabetes. Dengan dukungan ini, Leaphy menyadari bahwa ia tidak harus menanggung beban diabetes sendirian.

Hidup dengan diabetes tipe 1 telah membentuk Leaphy dengan cara yang tidak pernah ia duga. Ia belajar memahami tubuhnya, menyadari saat gula darahnya terlalu tinggi atau rendah, dan segera melakukan perubahan. Diabetes juga telah mengajarkannya pentingnya merawat diri sendiri—tidak hanya secara fisik.

Ia juga menjadi lebih pengertian, mengetahui bahwa setiap orang menghadapi tantangan. Perhatian dan kebaikan yang ia terima membuatnya menyadari kekuatan memiliki sistem pendukung yang kuat, dan sekarang ia mencoba menawarkan dukungan yang sama kepada orang-orang di sekitarnya, tetapi juga secara emosional.

Leaphy ingin agar anak muda lainnya yang menyandang diabetes tipe 1 tahu bahwa mereka tidak sendirian. “Mengatasi diabetes itu sulit,” katanya, “tetapi Anda bisa melakukannya. Itu tidak berarti impian Anda tidak dapat diraih.” Ia mendorong mereka untuk tetap positif, meminta bantuan saat mereka membutuhkannya, dan terus mengejar hal-hal yang mereka sukai.

Kisah Leaphy bukan hanya tentang hidup dengan diabetes—tetapi tentang hidup sepenuhnya, dengan harapan, kebahagiaan, dan keberanian. Ia tahu akan ada hari-hari yang sulit, tetapi ia juga percaya bahwa dengan tekad dan dukungan yang tepat, ia dapat menghadapi tantangan apa pun. Dan itulah pesan yang ingin ia sampaikan: apa pun rintangan yang menghadang, Anda lebih kuat dari yang Anda kira.

Bagi Leaphy, hidup dengan diabetes bukan hanya tentang jarum suntik dan angka—melainkan tentang menemukan kekuatannya, mengejar mimpinya, dan menemukan kegembiraan di setiap bagian perjalanannya.

Icon Disclaimer: