Info T1D
Tenaga Kesehatan Profesional
Tentang Kami
Diedit:
Dunia ibu sering kali digambarkan sebagai kisah tentang kekuatan, ketangguhan, dan pengorbanan tanpa batas. Sebagai ibu, kita diharapkan menjadi pilar keluarga—sosok yang menjaga segalanya tetap utuh, apa pun yang terjadi. Namun pengalaman selama lebih dari 20 tahun sebagai penyandang diabetes tipe 1, mengajari saya bahwa menjadi ibu bukan berarti menjadi orang tak terkalahkan. Sebaliknya, salah satu pelajaran paling berharga yang bisa saya bagikan ke anak-anak saya adalah bahwa ibu mereka bukanlah ibu super. Betul saya bisa kuat, tetapi saya juga bisa rapuh. Dan itu tidak apa.
Setiap hari bersama diabetes adalah sebuah upaya menjaga keseimbangan. Mengatur dosis insulin, memeriksa gula darah, dan menghadapi kondisi yang tidak terduga bisa terasa seperti memikul beban yang tak kasatmata. Namun, perjalanan ini tidak saya lalui sendirian—ini telah menjadi perjuangan seluruh keluarga. Anak-anak saya tumbuh besar menyaksikan semua rutinitas saya dengan suntik insulin dan cek gula darah. Apa yang saya anggap rutinitas menjadi kenangan masa kecil mereka, yang membentuk cara mereka memahami kepedulian, tanggung jawab, dan empati.
Salah satu momen termanis terjadi setiap kali saya harus menyuntikkan insulin di tempat umum. Tanpa diminta, anak-anak saya langsung mengambil posisi di sekeliling saya, melindungi saya dari tatapan orang-orang yang penasaran. “Tutupi Mama!” seru mereka, membentuk lingkaran pelindung saat saya menyuntikkan insulin. Dalam momen-momen kecil itu, saya melihat kasih sayang, kesadaran, dan kesediaan mereka untuk berperan sebagai pendukung. Mereka adalah pengawal kecil saya, dan saya menghargai itu lebih dari apa pun yang bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Beberapa orang mungkin berpikir bahwa anak-anak tidak seharusnya memikul tanggung jawab seperti itu. Namun, saya melihatnya secara berbeda. Dengan menyampaikan keterbatasan saya kepada mereka, saya sedang mengajarkan pelajaran hidup yang penting: bahwa kekuatan bukanlah tentang berpura-pura perkasa, melainkan tentang mengakui kebutuhan kita dan meminta dukungan. Bahwa saling peduli satu sama lain bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah wujud kasih sayang.
Menjadi ibu sekaligus penyandang diabetes juga telah menunjukkan kepada saya bahwa saya tidak harus memenuhi standar mustahil untuk menjadi seorang perempuan super. Anak-anak saya tidak membutuhkan kesempurnaan; mereka membutuhkan autentisitas. Mereka perlu melihat bahwa merasa kesulitan, beradaptasi, dan terus melangkah di tengah tantangan adalah hal yang manusiawi. Mereka perlu tahu bahwa ketangguhan muncul bukan dari menyangkal kerentanan, melainkan dari merangkulnya.
Jadi, ya, saya adalah seorang ibu yang hidup dengan diabetes. Saya adalah seorang pengasuh (caregiver), tetapi saya juga seseorang yang butuh dikasihi dan dirawat. Dan dalam perjalanan bersama ini, saya dan anak-anak belajar bersama—bahwa keluarga bukanlah tentang satu orang yang memikul segalanya, melainkan tentang saling mendukung melalui pasang surutnya kehidupan.
Pada akhirnya, saya berharap anak-anak saya tumbuh besar dengan memahami kebenaran ini: bahwa kekuatan terbesar mama mereka bukanlah karena menjadi manusia super, melainkan karena menjadi manusia yang apa adanya.
Itu seruan anak-anaknya setiap kali dia harus menyuntikkan insulin di tempat umum. Tanpa diminta, anak-anak langsung mengambil posisi di sekelilingnya, membentuk lingkaran pelindung dari tatapan orang-orang yang penasaran. Dia menyebut mereka pengawal kecilnya, dan momen itu dia hargai lebih dari apa pun yang bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Karena pengalaman lebih dari 20 tahun sebagai penyandang diabetes tipe 1 mengajari dia bahwa menjadi ibu bukan berarti menjadi orang tak terkalahkan. Dia bisa kuat, tapi dia juga bisa rapuh — dan menurutnya itu nggak apa-apa. Justru salah satu pelajaran paling berharga yang mau dia bagikan ke anak-anaknya adalah bahwa ibu mereka bukanlah ibu super.
Sebagian orang memang berpikir anak-anak nggak seharusnya memikul tanggung jawab seperti itu, tapi dia melihatnya berbeda. Dengan menyampaikan keterbatasannya, dia merasa sedang mengajarkan pelajaran hidup penting: kekuatan bukan soal berpura-pura perkasa, melainkan mengakui kebutuhan kita dan berani meminta dukungan. Bagi dia, saling peduli satu sama lain bukan beban, tapi wujud kasih sayang.
Dia ingin anak-anaknya paham bahwa kekuatan terbesar mama mereka bukan karena menjadi manusia super, melainkan karena menjadi manusia yang apa adanya. Anak-anak nggak butuh kesempurnaan, mereka butuh autentisitas — melihat bahwa merasa kesulitan, beradaptasi, dan terus melangkah di tengah tantangan itu manusiawi. Dan bahwa keluarga bukan tentang satu orang yang memikul segalanya, tapi tentang saling mendukung melalui pasang surut kehidupan.