Info T1D

Icon

Tenaga Kesehatan Profesional

Tentang Kami

Hidup dengan Diabetes Tipe 1: Apakah kita masih bisa bermain dan berbahagia?

Diedit:

Johanah Co

Type 1 Diabetes Advocate

Seperti apa hidup dengan Diabetes Tipe 1?

Apakah bisa menikmati hidup dengan Diabetes Tipe 1? Seberapa seringkah hal ini?

Mungkin Anda pernah berpikir tentang hal ini.

Ketika saya membaca pertanyaan-pertanyaan ini lagi, saya harus berhenti dan berpikir.

Pada tahun 2023, saya telah hidup dengan diabetes tipe 1 selama 22 tahun. Saya merindukan hidup saya sebelum saya terkena diabetes tipe 1. Hidup dengan diabetes tipe 1 dapat diibaratkan seperti ombak, terdapat pasang dan surut. Begitu pula dengan perasaan saya, terkadang saya sudah nyaman dengan kondisi ini, namun saya juga terkadang merasa kelelahan.

Beberapa orang mungkin berkata, "TIDAK ADA CARA untuk menikmati hidup dengan diabetes tipe 1! UGHHH!"

Kita lihat saja nanti. Santai saja dan lanjutkan membaca.

Mendengar istilah Diabetes Tipe 1 untuk Pertama Kalinya

Diabetes tipe 1 adalah kata yang tidak saya kenali ketika saya masih kecil karena saya jarang mengunjungi rumah sakit. Tidak menyangka saya dulu bahwa rumah sakit akan menjadi tempat nongkrong saya.

Duduk di ruang dokter, merasa sangat sakit dan sangat lemah, dengan mata tertutup setiap beberapa menit, membuat saya memiliki pikiran yang KOSONG.

Itu membuat saya merasa sangat frustrasi. APA YANG SEDANG TERJADI?! Dokter saya dengan cepat menusukkan jarum ke tangan saya, dan hasilnya menunjukkan bahwa kadar glukosa darah saya sangat tinggi.

Tau-tau selanjutnya saya mendapatkan suntikan... "Ini adalah INSULIN," kata dokter.

Saya bertanya lagi, "Apa ini?" Dokter saya menjawab, "Anda mengidap diabetes tipe 1. Anda harus memberi diri Anda insulin."

Saya pikir dokter saya bercanda. TETAPI, TIDAK, jadi saya tetap diam. Mendengarkan tentang diabetes tipe 1 cukup sulit dan membuat saya stres. Pada saat itu, saya hanya ingin pulang ke rumah.

Saya sangat bersemangat untuk pulang karena saya tidak bisa menyerap semua informasi diabetes yang dibagikan. Dokter memberi saya sebuah tas berisi jarum, strip tes, dan resep. Saya berpikir, "INI HANYA PR SEKOLAH." TAPI KALI INI, SAYA ADALAH PRNYA.

Menyuntik

Dengan diabetes tipe 1, saya tidak bisa lepas dari suntikan insulin.

Pertanyaan yang terus saya tanyakan, "Kapan saya akan berhenti menyuntik? Tentu, jarum suntik semakin kecil dari waktu ke waktu, tetapi bisakah hidup saya dengan diabetes tipe 1 hilang begitu saja?"

Sayangnya, tidak ada yang bisa melakukan keajaiban itu. Saya sedih bahwa saya akan selalu hidup dengan diabetes tipe 1 karena hal itu membuat saya merasa berbeda dari teman-teman saya. Saya merasa kesepian dan berbeda karena saya adalah satu-satunya siswa yang hidup dengan diabetes tipe 1.

Kadang-kadang, saya harus memilih antara memberikan insulin di kelas atau di kamar mandi. Karena saya tidak suka pergi ke kamar mandi karena harus naik turun tangga, sehingga saya memeriksa gula darah dan menyuntik diri sendiri dimanapun saya berada.

Saya sudah sangat terbiasa menyuntik di depan umum dan sudah pernah mendengar komentar-komentar seperti "betapa menyedihkan, menyedihkan sekali". Sejujurnya, saya merasa kesal mendengar komentar-komentar ini.

Saya kesal dengan apa yang dikatakan orang lain. Saya berjuang untuk menerima hidup dengan diabetes tipe 1 dan dikasihani. Saya tidak bisa membayangkan diabetes tipe 1 seumur hidup, kecuali jika obatnya sudah dekat. Tidak peduli seberapa panjang atau pendek jarumnya, menyuntikkan insulin tidak menjadi masalah. Tetapi karena diabetes tipe 1 terdengar seperti beban berat dengan stigma yang melekat, saya membayangkan betapa sulitnya untuk tetap hidup dengan diabetes tipe 1 seumur hidup saya.

Makan

Wow, saya tidak percaya betapa cepatnya dapur kami BERUBAH pada minggu saya terdiagnosa diabetes.

Saya bertanya kepada orang tua saya, di mana camilan yang biasa saya makan? Apa makanan baru ini? Apakah saya sedang berada di Mars? Bisakah kita makan di luar daripada selalu makan di rumah?

Selanjutnya, saya membuat janji dengan ahli gizi. Pikiran saya kosong melihat semua angka-angka dan gelas-gelas pengukur itu. OH NO!!! INI AKAN MENJADI KEHIDUPAN BARU SAYA?!!!

Saya tidak bisa mengikuti penjelasannya. Saya melihat daftar panjang yang harus saya lakukan. Mana yang harus saya dahulukan? Saya harus memikirkan apa yang akan saya makan, menghitung, dan kemudian menyuntik diri saya sendiri. Atau apakah saya harus memeriksa kadar glukosa darah saya terlebih dahulu, lalu...?

Saya benar-benar tidak tahu berapa banyak insulin yang harus saya suntikkan pada diri saya sendiri ketika saya kabur keluar rumah untuk membeli junk food. Gula darah saya akan naik cepat karena itu. Setelah itu, mood saya juga akan berubah.

Hal ini meyakinkan saya bahwa, oke, saya perlu belajar menghitung karbohidrat agar saya bisa mengatur naik turunnya glukosa darah saya dengan lebih baik. Saya perlu semacam referensi untuk menjaga agar glukosa darah saya tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Olahraga

Saya sangat menikmati olahraga. Tetapi ketika saya berolahraga, saya terkadang kesulitan apabila glukosa darah saya turun dengan cepat, yang juga disebut hipoglikemia.

Yang tidak saya sukai dari berolahraga adalah saya harus makan meskipun saya tidak lapar, hanya untuk menangani diabetes saya. Ketika glukosa darah saya rendah, jantung saya berdebar-debar seperti gempa bumi di dalam tubuh saya. Saya tidak menyukainya. Seolah-olah dunia saya hancur berantakan.

Ketika glukosa darah saya turun terlalu rendah, saya karena saya harus makan lagi, sehingga saya merasa kesulitan juga untuk mengelola berat badan saya.

Setelah banyak trial dan error, saya menemukan bahwa memeriksa kadar glukosa darah saya sebelum berolahraga adalah cara terbaik untuk mencegah hipoglikemia dan hiperglikemia.

Berolahraga membuat saya merasa enak. Saya merasa semua sel dalam tubuh saya bergerak. Saya merasa enak di kepala dan tubuh saya.

Ketika saya berolahraga, saya mungkin juga membutuhkan lebih sedikit insulin daripada hari-hari ketika saya tidak berolahraga.

Sekarang, apakah saya merasa senang dengan diabetes tipe 1?

Saya sudah tidak ingat lagi berapa kali saya trial dan error untuk mencari cara yang paling tepat untuk mengelola diabetes saya. Setiap hari berbeda dari hari sebelumnya. Jika hari ini tidak terlalu baik, mungkin besok akan lebih baik.

Yang saya tahu adalah, menghitung karbohidrat telah membantu saya menangani perubahan glukosa darah saya dengan lebih baik karena saya dapat mengetahui berapa banyak insulin yang harus suntikan.

Ketika saya berolahraga secara teratur, saya merasa enak. Karena setiap orang dengan diabetes tipe 1 berbeda, maka cara terbaik untuk mendapatkan hasil terbaik adalah dengan menyesuaikan manajemen Anda dengan kebutuhan Anda.

Saya juga tidak keberatan menyuntik di depan umum. Apa pun yang dikatakan masyarakat, saya memprioritaskan mengelola diabetes tipe 1 saya.

Memiliki diabetes tipe 1 telah menjadi bagian istimewa dalam hidup saya karena telah banyak membantu saya untuk berkembang. Kita bisa menjadi sekuat ombak samudra biru yang dalam. Akan ada saat-saat di mana kita mungkin akan terpuruk, tetapi kita bisa bangkit kembali.

Dan YA, kita MASIH BISA BERSENANG-SENANG dan BERMAIN sambil menjalani hidup dengan diabetes tipe 1, karena KITA BISA!

Icon Disclaimer: