Info T1D
Tenaga Kesehatan Profesional
Tentang Kami
Diabetes tipe 1 dan kondisi kronis ganda | "Ketika hidup menjadi rumit: Mengelola Diabetes Tipe 1 dan Kondisi Kronis Lainnya"
Diedit:
Hidup bersama Diabetes Tipe 1 (DT1) adalah pekerjaan penuh waktu. Tambahkan kondisi kronis lainnya, dan itu seperti menggunakan peta yang terus berubah. Anita dari Indonesia sangat memahami jalan ini. Dengan kekuatan, ketulusan, dan keteguhan hati, dia menempuh perjalanan yang sama sekali tidak mulus.
DT1 sudah menjadi masalah yang serius, tetapi terkadang, ia juga membawa teman-teman autoimun lainnya.
Menurut Popoviciu et al. (2023), banyak penyandang DT1 juga membawa kondisi autoimun lainnya, yang dapat memengaruhi emosi, perawatan yang dibutuhkan, dan kualitas hidup jangka panjang mereka.
Contoh umum termasuk:
- Celiac (masalah pencernaan yang disebabkan oleh gluten)
- Vitiligo (hilangnya warna kulit asli karena respons imun)
- Gastritis atrofi (peradangan pada lapisan lambung)
- Kondisi reumatik (memengaruhi sendi atau otot)
- Kondisi yang berhubungan dengan hormon seperti gangguan paratiroid
Tanyakan dirimu, bukankah hidup sebagai penyandang DT1 sudah sulit?
Sekarang tambahkan asma, celiac, dan nyeri sendi. Itu pasti level yang lebih sulit.
Mari berkenalan dengan Anita Sabidi. Didiagnosis DT1 pada 1998, Anita juga hidup dengan celiac, rheumatoid arthritis, dan asma, semua itu dijalani dengan ketangguhan hati.
"Mengelola semua itu artinya memeriksa gula darah, hindari makanan mengandung gluten, minum obat untuk peradangan, dan berjaga-jaga dengan asma. Setiap kondisi memengaruhi kondisi lainnya, jadi merawat diri sendiri terasa seperti permainan strategi yang tak ada ujungnya."
Ketika obat asma membuat gula darah naik: "Obat-obat asma saya mengandung steroid yang membuat gula darah naik. Begitu gula darah tinggi, sistem imun saya melemah, saya jadi mudah terinfeksi. Terkadang, saya harus pakai tangki oksigen sepanjang hari hanya agar bisa bernapas dengan nyaman."
Ketika semua dokter bekerja sebagai tim: Dokter endokrin yang jadi pemimpin, karena DT1 adalah kondisi utama saya. Dokter lainnya saling berkoordinasi. Saya sangat sayang tim dokter saya! Mereka praktik di rumah sakit yang sama, jadi komunikasinya mudah dan lancar. Itu sangat membantu."
Apa yang membuatnya tetap melangkah: Dengan semua tantangannya, saya jadi menyadari dan memahami kondisi tubuh saya yang membuat saya makin kuat."
Bagaimana autoimun dan kondisi kronis memengaruhi gula darah: Iya, itu benar. Obat-obatan untuk asma atau nyeri sendi, terutama steroid, dapat menyebabkan gula darah naik. Walaupun saya sudah mengontrol DT1 saya dengan baik, begitu ada kondisi lain yang kambuh, semua jadi terhenti. Ini menjadi rutinitas harian untuk penyesuaian, pencatatan, dan belajar mempercayai apa yang tubuh saya sampaikan."
Bagaimana dia mengatur semua terapi dan obat: Ini seperti mengatur jadwal harian. Setiap obat punya waktu dan kebutuhannya masing-masing. Ada yang harus diminum dalam kondisi perut terisi, ada juga yang tidak harus. Ada beberapa obat yang memengaruhi gula darah, tetapi ada juga yang sama sekali tidak berpengaruh. Saya selalu berkoordinasi dengan dokter dan apoteker untuk menjaga semua tetap seimbang.
Di Indonesia, hal ini seringkali berarti mengunjungi pusat layanan kesehatan primer, atau puskesmas, yang lebih umum di seluruh negeri, tetapi memiliki akses terbatas terhadap dokter spesialis. Dari puskesmas, nanti akan dirujuk ke rumah sakit tipe A atau tipe B untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Aspek apa yang paling krusial? “Saya memperhatikan ketika tubuh saya memberi sinyal, ‘cukup, saya capek.’ Ini tanda bahwa saya harus istirahat dan tinjau ulang.”
Bahkan seorang petarung pun ada batasnya. Ini adalah hal-hal yang Anita lakukan ketika semuanya terasa begitu berat.
“Kita semua pasti pernah ada di titik itu. Saat itu terjadi, saya kembali ke hal-hal mendasar. Bukan mengejar kesempurnaan, tetapi cukup hal yang praktis dan berbaik hati pada diri sendiri.”
Anita lalu menjabarkan apa saja yang ia lakukan untuk “kembali ke dasar”:
- Hindari karbo ketika gula darah perlu ditenangkan.
- Tetap di rumah jika level polusi udara sedang tinggi untuk melindungi paru-paru.
- Gunakan tangki oksigen saat sulit bernapas.
- Gunakan tongkat atau kursi roda ketika nyeri sendi sedang kambuh.
- Pilihlah makanan ala Asia yang sederhana, seimbang, dan dimasak di rumah (masakan rumahan), seperti tempe atau tahu dengan sayuran kukus, atau sup ikan.
- Pilihlah kaldu bening, mi shirataki, atau nasi berindeks glikemik rendah (IG rendah) agar hidangan terasa ringan dan bergizi. Ada juga yang menggunakan mi Jepang yang kenyal atau nasi merah.
Melalui banyak uji dan coba, Anita akhirnya menemukan irama yang cocok, kebiasaan-kebiasaan yang membuatnya stabil meskipun hari sedang berat.
Berikut ini adalah saran-saran Anita yang mungkin bisa Anda terapkan:
- Tidur yang cukup dan berkualitas
- Minum banyak air
- Olah fisik yang dirasa aman dan bermanfaat
- Kelola stres semampu yang Anda bisa
- Pilih makanan-makanan yang sederhana dan padat gizi.
- Konsisten dengan terapi pengobatan dan kontrol rutin.
Kebiasaan sehari-hari ini membangun fondasi yang kuat tanpa perlu perawatan mahal
Masih ragu apakah hidup bisa memuaskan dengan semua kondisi ini?
"Tentu saja. Tidak apa-apa. Saya harus membuat rencana cadangan dan meminta bantuan kapanpun saya butuh.
Saya menemukan kebahagiaan dalam keberhasilan-keberhasilan kecil. Saya berusaha tetap kuat, tertutama untuk anak-anak saya. Dalam budaya kami, keluarga adalah yang utama. Perjuangan saya saat ini bukan hanya untuk diri saya, tetapi untuk mereka juga. Itulah alasan KENAPA saya terus bergerak maju."
Jika ada yang bertanya apakah kondisi-kondisi autoimun bisa dicegah, menurut Anita, "Mungkin, ada, ya? Tidak semua kondisi autoimun dan kronis bisa dicegah. Gen, stres, dan lingkungan punya peran juga di sini."
Namun yang jelas, tetap waspada itu yang membantu. Lakukan skrining sedini mungkin. Bangun tim yang mendukung Anda,
"Saya terima kenyataan bahwa saya punya kondisi-kondisi ini. Daripada menolaknya, saya pilih berdamai. Bukan karena ini mudah, tetapi karena saya ingin hidup dengan nyaman. Untuk saya, untuk keluarga saya."
Saran Skrining
Sangat disarankan bagi penyandang DT1 untuk melakukan skrining tiroid autoimun dan masalah autoimun lainnya segera setelah diagnosis dan rutin setelahnya, terutama ketika gejala atau tanda peringatan muncul (Bagian 4: Comprehensive Medical Evaluation and Assessment of Comorbidities, 2024).
UNTUK SIAPAPUN YANG MEMBACA INI: HIDUP INI LAYAK DIJALANI.
Jika Anita mampu menjalani semua bersama DT1, autoimun, dan kondisi kronis lainnya, Anda juga bisa.
Lanjutkan perjalanan Anda, karena, ANDA BISA.